Total Knee Replacement, Tangani Osteoarthritis Stadium Lanjut.

Familiar dengan nyeri yang terasa di sendi penopang badan? Medis menyebutnya dengan Osteoarthritis (OA), atau biasa disebut masyarakat awam dengan pengapuran sendi.

Hal ini tentu tidak bisa diabaikan begitu saja. OA merupakan penyakit degeneratif yang dianggap kronis, yang disertai pula dengan kerusakan tulang
rawan sendi. Salah satu sendi yang menjadi sasaran OA adalah sendi lutut. OA pada lutut bahkan disebut-sebut sebagai penyebab utama kelumpuhan di usia lanjut (kisaran 45 tahun ke atas). Jika melihat dari sisi gender, data medis menyebutkan bahwa OA lutut seringkali menyerang wanita. Hal tersebut terjadi secara bergantian dari lutut yang satu ke lutut pada kaki lainnya.

“Mengapa kebanyakan wanita? Karena selain degeneratif, menopause menjadi salah satu faktor penyebab penderita menjadi rentan terhadap OA, utamanya pada lutut,” ungkap Dr. Ketut Martiana, Sp.OT, Dokter Spesialis Bedah Ortopedi RS Premier Surabaya.

Akibat menopause, produksi hormon estrogen akan berkurang secara perlahan-lahan dan akhirnya berhenti. Padahal fungsi hormon estrogen sangat penting untuk menjaga elastisitas jaringan di dalam tubuh, termasuk sendi lutut. Namun lain daripada itu Dr. Ketut juga tidak memungkiri bahwa OA lutut bisa saja menyerang laki-laki usia lanjut. Khususnya pasien yang memiliki riwayat cedera atau trauma pada lutut.

Selain faktor usia dan hormonal, faktor lain yang diketahui berhubungan erat dengan terjadinya OA lutut ini antara lain adalah obesitas. Jelas sekali
bahwa obesitas atau kelebihan berat badan akan menambah kompresi/tekanan/beban pada sendi lutut. Semakin besar beban yang ditumpu oleh sendi lutut, semakin besar pula risiko terjadinya kerusakan pada tulang.

Dr. Ketut memaparkan bahwa OA lutut dikatakan semakin buruk atau stadium lanjut, jika penderita juga mengeluhkan perubahan bentuk lutut atau deformitas. “Biasanya pasien datang dengan kondisi lutut yang mulai bengkok disertai dengan nyeri yang sangat hebat. Lutut yang bengkok tersebut sering disebut awam dengan ‘letter O’ jika . Ketika dilakukan rontgen, akan terlihat bahwa sisi tulang rawannya telah rusak. Medis mengategorikan ini dengan OA stadium 4, dimana perlu dilakukan tindakan operasi bernama Total Knee Replacement (TKR),” jelas Dr. Ketut

Penatalaksanaan OA dengan TKR

Secara meluas, tindakan pembedahan dalam menangani OA dibagi menjadi tiga. Pertama adalah Artroskopi yang cocok untuk OA lutut tahap awal, dan dianggap sebagai operasi kecil dimana spesialis ortopedi menggunakan ‘artroskop’ untuk melihat bagian dalam sendi; kedua yaitu Osteotomi yang cocok untuk pasien lebih muda (kurang daripada 50 tahun) dengan OA lutut terbatas, dimana tulang di sekitar sendi dipotong agar sendi dapat diperbaiki untuk kembali sejajar; dan ketiga adalah penggantian sendi atau yang disebut Dr. Ketut sebagai Total Knee Replacement (TKR).

Dalam pembedahan TKR, bagian ujung-ujung tulang akan diganti dengan bahan logam dan plastik (polyethylene). Dengan menggunakan peralatan yang tepat, ahli bedah orthopaedi akan membuang permukaan tulang rawan yang rusak dari ketiga tulang di bagian sendi lutut. Kemudian permukaan tulang tersebut baru akan dilapisi dengan implan.

Permukaan tulang atas akan diganti dengan suatu bagian logam bulat yang hampir menyerupai lekuk tulang asli. Sementara permukaan tulang bawah akan diganti dengan logam yang datar dan dialasi pula dengan polyethylene yang berperan sebagai tulang rawan.

“Sayangnya, banyak pasien yang tidak mau mengambil tindakan operasi begitu saja karena menganggap TKR memiliki banyak risiko. Padahal Tim Orthopaedy RS Premier Surabaya telah melakukan tindakan ini sejak rumah sakit ini berdiri, pengalaman kami telah lebih dari 25 tahun. Setidaknya risiko yang ada dapat diminimalisir,” imbuh Dr. Ketut.

Risiko yang paling ditakutkan oleh pasien, lanjutnya, adalah infeksi. Namun hal ini seiring dengan peningkatan kualitas dan keamanan kamar operasi,
hal ini sangat bisa untuk dicegah. Selain itu Dr. Ketut juga menjamin pasien tidak akan mengalami pendarahan yang banyak pada saat operasi. “Untuk pasien dengan komplikasi penyakit (misalnya stroke, darah tinggi, atau jantung koroner) yang biasa mengonsumsi obat pengencer darah, kami merekomendasikan agar mereka menghentikan pemakaian seminggu sebelum operasi. Tentunya atas izin dari dokter penyakit dalam mereka. Hal ini dilakukan untuk menghindari pendarahan yang banyak pada saat operasi,” paparnya.

Tahapan Penatalaksanaan TKR

Lebih lanjut Dr. Ketut juga menjelaskan beberapa tahapan yang dilakukan sebelum tindakan operasi hingga pasca operasi:

Sebelum Pembedahan

Jika pasien dan dokter telah sama-sama sepakat untuk melakukan tindakan pembedahan TKR, ada beberapa persiapan atau pemerikasaan tambahan yang perlu dilakukan. Terkait pemeriksaan, biasanya ahli bedah Orthopaedy menganjurkan agar pasien melakukan check-up penyakit dalam atau jantung.

“Karena kita tetap memprioritaskan agar pasien sedang dalam kondisi yang fit pada saat dilakukan tindakan, agar proses pemulihan bisa berlangsung cepat,” tegas Dr. Ketut

Lebih dari itu, pasien menjalani perawatan fisiotherapy pra bedah. Dalam perawatan tersebut, pasien akan diberikan gambaran apa yang akan mereka alami pada saat operasi dan pasca operasi, seperti apa proses pemulihannya, bagaimana tahapan latihan berjalan menggunakan tongkat setelah operasi. Sebelum operasi, lutut akan ditandai untuk menghindari kesalahan fatal pada saat operasi.

Sewaktu Pembedahan

Pada hari pembedahan, pasien akan diminta berpuasa dan dipasangi infus. Selain cairan infus yang dimasukkan, juga diperlukan antibiotik untuk pencegahan infeksi. Usai dibius oleh ahli anasthesi, lutut pasien akan disterilisasi dengan menggunakan bahan desinfektan.

Pembedahan akan dimulai dengan irisan kulit di bagian depan lutut yang akan mencapai ke dalam sendi. Apabila ujung lutut telah dapat dilihat dengan jelas, ahli bedah Orthopaedy akan menggunakan peralatan khusus yang tepat untuk membuang bagian-bagian permukaan tulang yang rusak dan melapisinya dengan implan yang sesuai dengan menggunakan semen tulang (bone cement).

Ligamen-ligamen (urat-urat) di sekitar sendi juga mungkin perlu disesuaikan untuk mendapatkan fungsi sendi terbaik. Pembedahan akan mengambil waktu antara 1-3 jam, tergantung pada kondisi pasien.

Sesudah Pembedahan

Sehari pasca operasi, pasien diharapkan dapat langsung menjalani fisiotherapy berlatih jalan menggunakan walker. Proses pemulihan diprediksi akan berlangsung selama 1-2 bulan. Beberapa minggu setelah operasi, pasien biasanya disarankan untuk memakai alat bantu berjalan. Dalam hal perawatan luka pasca operasi, pasien harus menjaga lutut dari kondisi basah. Obat gosok juga tidak boleh digunakan pasca pemulihan karena akan berkontaminasi langsung dengan implan yang terpasang.

“OA lutut memang tidak dapat dihindari, namun ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk ‘memundurkan’ waktu terjadinya peradangan sendi tersebut. Caranya adalah dengan menjaga berat badan tetap ideal dan olahraga yang mengandung komponen penguatan otot. Olahraga tersebut misalnya berenang gaya katak atau bersepeda. Langkah-langkah tersebut sekaligus untuk menghindari trauma cedera pada lutut,” tutup Dr. Ketut.