Serangan ‘Rumit’ Diabetes Untuk Jantung

Penyakit Diabetes Mellitus Memang Menciptakan Kompleksitas Multi Organ, Antara Lain Ke Arah Penyakit Jantung Koroner (Pjk). Diabetes Yang Tidak Terkontrol Akan Menyebabkan Disfungsi Endothel (Lapisan Terdalam Dari Pembuluh Darah). Disfungsi Endothel Menyebabkan Kolesterol Ldl Mudah Menembus Ke Dalam Dinding Arteri Koroner Sehingga Membentuk Plak Atherosclerosis.

Banyak dari penderita diabetes memiliki suatu peningkatan risiko ke PJK. Bahkan menurut National Institutes of Health, sekitar 80 persen dari penderita diabetes meninggal akibat komplikasinya ke PJK. Fakta medis juga mengatakan seseorang yang menderita diabetes mempunyai peluang dua kali lebih besar untuk mendapat penyakit jantung koroner dibanding orang yang tidak menderita diabetes. Risiko untuk PJK pada penderita diabetes itu akan semakin meningkat jika penderita mempunyai sejarah keluarga yang menderita PJK.

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RS Premier Surabaya, dr. Budi Baktijasa D, Sp.JP (K) FIHA FAsCC, FSCAI mengatakan diabetes yang tidak terkontrol akan mengakibatkan LDL kolesterol mudah teroksidasi karena proses auto oksidasi dan glikasi “LDL teroksidasi itu akan mudah menembus sel endotel yang sudah disfungsi akhirnya ditangkap oleh makrofag yang lama kelamaan akan berubah menjadi foam cell. Jika foam cell itu pecah, akan menjadi lipid core dilapisan sub intimal. Maka akan terjadi penyempitan pembuluh darah. Itulah awal mula aterosklerosis pada PJK. Jika karena sesuatu hal, plak aterosklerosis robek, maka isinya akan terpapar aliran darah sehingga menyebabkan terjadi reaksi penggumpalan darah (thrombosis). Gumpalan darah (thrombus) dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah koroner.

Penyumbatan ini bisa total bisa juga subtotal. Jika terjadi penyumbatan total maka sama sekali tidak terdapat aliran darah, sehingga terjadi kerusakan pada otot jantung. Hal ini disebut infark miokard akut. Pada penyumbatan yang subtotal masih ada sedikit aliran darah pada otot jantung, keadaan ini disebut angina pectoris tak stabil. Infark miokard akut dan angina pectoris tak stabil disebut sindroma koroner akut,” jelas dr. Budi.

dr. Budi juga menambahkan bahwa diabetes, memiliki tingkat risiko terkena serangan jantung yang hampir sama dengan penderita PJK kronis non diabetes. “Penderita PJK karena diabetes jika diamati dalam beberapa tahun, risiko terkena serangan jantungnya hampir sama dengan penderita PJK kronis yang tidak menderita diabetes. Sehingga penderita diabetes itu dianggap setara dengan PJK kronis,” katanya.

PEMICU TERJADINYA PJK

Penyakit diabetes dan komplikasinya ke PJK banyak dipengaruhi oleh faktor gaya hidup antara lain makanan. Makanan yang berlemak dapat meningkatkan kadar kolesterol terutama LDL, karenanya makanan juga mempengaruhi risiko terjadinya penyempitan atau penyumbatan arteri koroner. Faktor risiko yang lain adalah kebiasaan merokok, tekanan darah yang tinggi, orang yang memiliki pola hidup yang jarang berolahraga, orang yang mempunyai riwayat keluarga penderita PJK, selain juga diabetes itu sendiri.

Diabetes yang berpotensi memiliki komplikasi ke arah PJK biasanya menyerang pada laki-laki diatas usia 35 tahun, walaupun tidak tertutup kemungkinan menyerang laki laki dengan usia yang lebih muda. Semakin banyak faktor risiko yang terdapat pada seseorang, maka semakin mudah orang tersebut mendapat serangan jantung.

Pada wanita biasanya PJK menyerang saat menopause karena pada saat itu hormone estrogen yang melindungi kemungkinan terjadinya PJK pada wanita sudah habis. Walaupun demikian seorang wanita yang belum menopause bisa saja mendapat serangan jantung terutama jika pada wanita tersebut memiliki faktor-faktor risiko yang sudah tersebut diatas.

“Salah satu pasien saya, seorang wanita berusia 42 tahun, masih menstruasi tetapi sudah mendapat serangan jantung (infark miokard akut). Ternyata pada penderita tersebut mempunyai riwayat hipertensi, diabetes yang tidak terkontrol, dan kadar LDL yang tinggi,” ungkap dr. Budi.

Karenanya merubah pola hidup yang sehat, menjaga kolesterol, mengobati secara dini diabetes dan hipertensi, serta menghindari merokok sangat penting dilakukan untuk pencegahan dini PJK.

GEJALA PENYAKIT JANTUNG KORONER (PJK)

Gejala khas dari PJK adalah nyeri dada yang khas, disebut dengan Angina Pectoris dengan tanda sebagai berikut :

– Nyeri dada seperti tertindih benda berat atau diremas atau panas, bukan seperti diiris iris atau ditusuk tusuk.
– Lokasi nyeri di tengah dada dapat menjalar ke lengan kiri atau ke leher sehingga seperti dicekik atau tembus ke belakang atau menjalar keperut terasa seperti kembung. Rasa nyeri dan kembung sering kali disalah artikan sebagai sakit maag atau angin duduk.
– Lama nyeri 5 menit atau lebih, bisa disertai dengan kringat dingin, mual bahkan sampai pingsan. Jika nyeri lebih dari 20 menit kemungkinan terjadi serangan jantung akut (infark miokad akut / angina tak stabil).

LDL teroksidasi itu akan mudah menembus sel endotel yang sudah disfungsi akhirnya ditangkap oleh makrofag yang lama kelamaan akan berubah menjadi foam cell. Jika foam cell itu pecah, akan menjadi lipid core dilapisan sub intimal. Maka akan terjadi penyempitan pembuluh darah. Itulah awal mula aterosklerosis pada PJK. Jika karena sesuatu hal, plak aterosklerosis robek, maka isinya akan terpapar aliran darah sehingga menyebabkan terjadi reaksi penggumpalan darah (thrombosis). Gumpalan darah (thrombus) dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah koroner. Penyumbatan ini bisa total bisa juga subtotal. Jika terjadi penyumbatan total maka sama sekali tidak terdapat aliran darah, sehingga terjadi kerusakan pada otot jantung. Hal ini disebut infark miokard akut. Pada penyumbatan yang subtotal masih ada sedikit aliran darah pada otot jantung, keadaan ini disebut angina pectoris tak stabil. Infark miokard akut dan angina pectoris tak stabil disebut sindroma koroner akut,” jelas dr. Budi.

Beberapa penderita PJK tidak merasakan adanya nyeri atau rasa tidak enak di dada, hal ini disebut silent ischemia. Pada penderita diabetes mellitus sering terjadi silent ischemia seperti ini.

Misalnya pada sindroma koroner akut (termasuk disini infark miokard akut dan angina pectoris tidak stabil) dapat terjadi aritmia yang fatal yaitu ventrikular fibrilasi atau ventrikular takikardi. Dimana jantung hanya bergetar saja tidak berfungsi sebagai pompa sehingga tidak ada darah yang mengalir ke seluruh tubuh. Jika tidak diatasi dengan cepat maka penderita akan meninggal dalam waktu beberapa menit.

Komplikasi yang lain adalah gagal jantung akut akibat kerusakan otot jantung yang luas pada saat terjadinya infark miokard.

TINDAKAN PENCEGAHAN

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya PJK. dr. Budi kembali menegaskan, bahwa tindakan pencegahan preventif yang sangat baik adalah merubah pola hidup menjadi lebih sehat. Selain itu hindari makanan berlemak dan kendalikan kadar kolesterol dan kendalikan diabetes dan hipertensi serta hindari merokok.

“Lifestyle harus tetap dijaga, diabetes dikendalikan dengan obat-obatan. Pengobatan spesifik PJK antara lain dengan obat aspirin untuk mencegah pengumpalan darah. Pemberian statin untuk menjaga kadar LDL kolesterol dibawah 100 mg/ dl. Selain itu pada penderita PJK diberikan obat obatan untuk memperlebar pembuluh darah koroner yang menyempit antara lain diberikan nitrat dan antagonis kalsium. Selain itu diberikan juga betabloker untuk menurunkan detak jantung.

Semua itu untuk membuat keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen di otot jantung. Namun jika dengan obat-obatan yang diberikan tetap tidak bisa mengontrol serangan jantung atau bahkan keadaannya semakin parah, bisa dilanjutkan dengan pengobatan non medikal yaitu dengan Percutaneus Cardiac Intervention (PCI), yaitu tindakan untuk membuat aliran darah di arteri koroner menjadi lancar dengan cara pemasangan ditiup dengan balon dan pamasangan stent pada arteri koroner yang mengalami penyempitan atau penyumbatan. Alternatif lain adalah operasi CABG (Coronary Artery Bypass Graft) yaitu membuat sambungan pada daerah distal pembuluh darah koroner yang menyempit,” pungkasnya.