Penyakit Jantung Koroner Mengintai Siapa Saja

Penyakit Jantung Koroner (PJK) ternyata tak hanya menyerang lanjut usia, melainkan menyerang kalangan berusia muda. Jumlahnya pun mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Padahal dulu, dalam literatur kedokteran, biasanya PJK menyerang usia 40 tahun untuk lakilaki dan perempuan di atas 55 tahun.

Menurut Spesialis Jantung RS Premier Surabaya dr. Jeffrey Daniel Adipranoto, Sp.JP, hal itu disebabkan oleh pergeseran gaya hidup atau lifestyle. Kaum muda yang terserang PJK dikarenakan pola hidup dengan stres tinggi, lingkungan tidak sehat, dan seringnya mengonsumsi makanan siap saji. Maka tak heran dirinya mengaku pernah menangani pasien berusia 36 tahun yang terkena PJK.

Apa Itu PJK?

PJK merupakan penyakit jantung yang terjadi karena rusaknya dinding pembuluh darah, disebabkan oleh kolesterol yang menimbun di dinding bagian dalam pembuluh darah. Hal ini mengakibatkan pembuluh darah mengalami penyempitan dan aliran darah pun tersumbat. Akibatnya, fungsi jantung terganggu karena harus bekerja lebih keras untuk memompa aliran darah. Seiring perjalanan waktu, arteri-arteri koroner kian sempit dan mengeras. Inilah yang disebut dengan aterosklerosis.

Dr. Jeffrey memaparkan dua jenis faktor risiko PJK: yaitu faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi.

“Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi misalnya faktor genetis, usia, gender (dimana laki-laki lebih rentan terkena PJK daripada wanita di usia produktif). Sementara faktor risiko yang dapat dimodifikasi adalah faktor-faktor yang bisa dikontrol dan kita cegah, seperti darah tinggi, diabetes, merokok, obesitas, dan lain sebagainya,” tuturnya.

Menurut dr. Jeffrey, PJK memiliki bentuk klinis yang luas. Ini yang menyebabkan gejala yang dialami oleh penderita tidak selalu sama dan sangat variatif, mulai tidak ada keluhan, hingga keluhan yang spesifik. Terdapat 35%-40% kasus mengalami gejala kematian mendadak (sudden death). Gejala lainnya adalah sakit di dada seperti ditekan dengan rasa sakit yang menjalar ke lengan kiri dan leher seperti tercekik.

Bahkan banyak yang mengalami gejala yang dianggap masuk angin, yakni sakit di ulu hati, kadang diiringi dengan kembung dan disertai dengan keringat dingin dan denyut nadi yang tidak teratur. Masa keemasan penderita serangan jantung sendiri adalah dua hingga enam jam, lebih cepat ditangani maka bisa lebih baik.

“Saat terjadi serangan jantung, tak banyak yang bisa dilakukan oleh orang awam. Jadi jangan pernah membuang waktu, segera larikan ke rumah sakit. Selama penderita berada di luar rumah sakit, angka kematiannya adalah 50%. Namun jika ia telah mencapai rumah sakit dengan fasilitas yang baik, kemungkinan terburuk itu bisa terminimalisir menjadi kurang dari 10%. Tentu dilihat juga dari luas serangan dan waktunya,” imbau dr. Jeffrey.

Siapa Lebih Rentan? Laki-laki atau Perempuan?

PJK umumnya dianggap sebagai penyakit yang rentan menyerang kaum pria. Beberapa data juga menunjukkan bahwa laki-laki lebih rentan terkena penyakit jantung di usia produktif.

“Wanita di usia produktif dianggap terlindungi oleh adanya hormon esterogen yang diyakini mampu memberikan vascular protection bagi kaum hawa yang kemudian berangsur-angsur menurun jika hormon tersebut hilang atau berkurang,” ungkap dr. Jeffrey.

Perempuan dengan PJK biasanya mengalami komplikasi yang lebih serius, karena lebih sering ditemukan adanya penyakit komplikasi seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan ginjal. Penyumbatan pada pembuluh darah kecil atau mikrovaskular juga lebih banyak terjadi pada perempuan. Penyumbatan yang seperti ini lebih sulit dideteksi dengan pemeriksaan standar yang ada pada saat ini.

Kurangnya pengetahuan kaum perempuan akan bahaya penyakit jantung, umumnya membuat mereka tidak menyadari gejala penyakit tersebut, sehingga menyebabkan keterlambatan dalam mendiagnosa.

“Sudah sepatutnya wanita lebih waspada. Hormon esterogen hanya salah satu faktor pelindung, jika dikepung faktor risiko lain seperti diabetes misalnya, kemungkinan besar risiko PJK pada wanita produktif itu tetap ada,” dr. Jeffrey menegaskan.

Tangani PJK dengan Fasilitas Lengkap

Bicara penatalaksanaan, dr. Jeffrey mengulas dua cara untuk memperbaiki penyumbatan pembuluh darah. Pertama, dengan tindakan pemasangan ring atau cincin. Cara ini adalah salah satu prosedur untuk memperlebar pembuluh darah yang ditemukan menyempit pada bagian jantung. Sejauh ini, tindakan pemasangan ring tersebut diyakini menjadi tindakan yang paling efektif dan memiliki manfaat yang lebih besar, hanya biayanya saja yang sedikit mahal.

Cara kedua adalah dengan obat penghancur gumpalan darah (trombolitik) gumpalan darah. Cara ini tidak selamanya berhasil, terlebih membutuhkan waktu hingga 12 jam hingga pembuluh darah kembali terbuka pasca pemakaian obat trombolitik tersebut. Karena itu, lanjut dr. Jeffrey, dalam protokol medis modern, obat penghancur gumpalan darah tidak dianjurkan sebagai terapi akhir.

Di RS Premier Surabaya kami memiliki fasilitas penanganan penyakit jantung yang lengkap dan tidak banyak dimiliki oleh banyak rumah sakit lainnya. Mulai dari hulu hingga ke hilir. Dari sekadar check up, Elektro Kardio Gram, foto rontgen, dan foto pencitraan sebagai tindakan diagnostik. Kami juga dapat melakukan laboratorium kateterisasi dan pencitraan via angiography coroner,” paparnya.

Sementara untuk tindakan, sambung dr. Jeffrey, RS Premier Surabaya juga menyediakan fasilitas yang hampir lengkap. Semisal pemasangan ring, rekonstruksi pembuluh darah, hingga pemasangan pacu jantung.

“Namun di luar dari hal itu, pencegahan lebih utama dibandingkan pengobatan. Hindari faktor pemicu, jalani gaya hidup yang sehat, dan jangan lupa jalani olahraga rutin. Yaitu olahraga yang bersifat endurance, ritmis, dan terus-menerus dilakukan,” pesan dr. Jeffrey.