Deteksi Dini Kanker Serviks dengan Colposcopy

Dari sekian banyak jenis penyakit kanker yang ada, kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker yang cukup banyak diderita oleh perempuan di Indonesia. Bahkan, penyakit ini dilabeli sebagai penyakit pembunuh nomor satu bagi para perempuan di Indonesia.

Hal di atas merupakan ironi karena kanker serviks sebenarnya adalah jenis kanker yang bisa dicegah dengan melakukan pemeriksaan dini. Dr. Brahmana Askandar, Sp.OG (k), spesialis kandungan RS Premier Surabaya menyatakan bahwa kanker serviks tergolong mudah untuk dicegah karena dua hal. Yang pertama adalah kanker jenis ini membutuhkan waktu yang lama dari normal hingga berubah menjadi kanker, yaitu berkisar 8 hingga 15 tahun.

Karena perjalanannya lama, ada kesempatan untuk melakukan deteksi dini sehingga memperkecil kemungkinan kanker untuk berkembang menjadi lebih parah. Ini adalah alasan yang kedua. “Karena itu, sebetulnya seseorang yang terdiagnosis kanker serviks sebetulnya sayang, karena jangka waktu yang lama itu masa tidak terdeteksi?” ujar dr. Brahmana.

“Jika sudah kanker serviks, pengobatannya membutuhkan energi yang besar, biaya yang banyak dan pengobatan yang tidak sebentar. Padahal, kanker serviks adalah jenis kanker yang mudah dicegah.”
Dr. Brahmana Askandar, Sp.OG (k)
Dokter Spesialis Kandungan RS Premier Surabaya.

Apa penyebab Kanker Serviks?

Kanker serviks disebabkan oleh virus yang dikenal dengan nama Human Papiloma Virus (HPV). HPV berukuran sangat kecil namun cukup berbahaya, infeksi yang disebabkan oleh virus inilah yang kemudian menimbulkan munculnya kanker. Sejatinya, perempuan yang telah aktif secara seksual sangat rentan untuk terinfeksi virus HPV.

Melihat bahwa kanker serviks bisa dicegah, namun ternyata paling banyak diderita oleh sebagian besar kaum perempuan. Lagi–lagi, dr. Brahmana menyatakan bahwa hal ini terjadi karena kurangnya awareness (kesadaran) masyarakat terhadap penyakit ini. Juga, penyakit ini seringkali terabaikan oleh tenaga kesehatan. Seringkali tenaga kesehatan lebih fokus kepada hal yang lain daripada memberikan edukasi pada masyarakat untuk lebih peka terhadap penyakit ini.

“Jadi problemnya banyak sebenarnya. Masyarakatnya sendiri tidak melakukan Pap Smear, screening yang standar dan ideal juga belum bisa dilakukan secara merata di seluruh Indonesia. itulah kenapa banyak yang lolos,” jelas dr. Brahmana.

Bagaimana tindakan pencegahan kanker serviks?

Seorang perempuan yang telah aktif secara seksual sejatinya perlu untuk melakukan deteksi dini sebagai langkah awal untuk mencegah kanker serviks. Dengan mengetahui lebih dini, tentu pencegahan kanker serviks akan lebih mudah dilakukan. Ada berbagai metode yang dilakukan untuk mendeteksi kanker serviks, salah satunya adalah colposcopy.

Colposcopy adalah sebuah cara pemeriksaan leher Rahim dengan menggunakan colposcope, sebuah mikroskop yang dirancang secara khusus. Penggunaan metode ini adalah untuk melihat perubahan sel pada leher rahim. Colsposcope akan digunakan untuk memperbesar mulut rahim, kemudian dengan menggunakan larutan
asam asetat dokter akan mengevaluasi seluruh permukaan mulut rahim.

Apabila ada yang mencurigakan, maka akan dilakukan biopsi. Metode colposcopy ini biasanya dilakukan setelah pengecekan dengan metode Pap Smear terlebih dahulu. “Colposcopy itu dikerjakan jika hasil Pap Smear abnormal,” kata dr. Brahmana.

Hasilnya dikombinasi antara Pap Smear dan colposcopy sehingga diagnosis yang dilakukan oleh dokter bisa lebih akurat. Pelaksanaan colposcopy pun tidak membutuhkan waktu yang cukup lama, sebab pengambilan jaringan di mulut rahim tidak membutuhkan proses yang berkepanjangan. Apalagi, jika pasien yang datang telah melakukan pengecekan Pap Smear sebelumnya maka akan semakin mempersingkat waktu pelaksanaan colposcopy.

Penggunaan metode untuk mendeteksi kanker ini adalah salah satu yang cukup tinggi tingkat akurasinya. Selain itu, tidak ada efek atau risiko yang ditimbulkan dari pelaksanaan colposcopy. Juga tidak ada batasan bagi siapa pun untuk melakukan colposcopy.

“Setiap pasien dengan hasil Pap Smear sangat dianjurkan untuk melakukan colposcopy,” tambah dr. Brahmana. Sayangnya, tidak seluruh rumah sakit memiliki
ketersediaan untuk melakukan colposcopy. Di Surabaya sendiri, dr. Brahmana menyatakan bahwa hanya sekitar 10 persen rumah sakit yang bisa melakukan colposcopy. Ini merupakan salah satu tantangan tersendiri untuk pencegahan kanker serviks secara dini.

Selain itu, cara yang paling awal untuk dilakukan untuk mencegah pencegahan kanker serviks adalah dengan melakukan vaksin HPV bagi perempuan yang sudah berusia 9 tahun. Hal ini dilakukan untuk membantu mencegah kemungkinan terjadinya kanker serviks di usia mendatang.
“Meskipun tidak mencegah secara keseluruhan, namun vaksin ini dapat menurunkan kemungkinan terkena kanker serviks hingga 80 persen,” jelas dr. Brahmana. Selain itu, bagi perempuan yang sudah aktif secara seksual, pengecekan Pap Smear adalah sesuatu yang harus dilakukan secara rutin.

“Jika sudah kanker serviks, pengobatannya membutuhkan energi yang besar, biaya yang banyak dan pengobatan yang tidak sebentar. Padahal, kanker serviks adalah jenis kanker yang mudah dicegah. Caranya adalah dengan meningkatkan awareness masyarakat, serta masyarakat juga harus memiliki semangat untuk melakukan pemeriksaan secara rutin,” tutur dr. Brahmana.

Kenali Kanker Serviks